Di Suatu hari, di hari yang hujan, saya punya janji ketemu orang. Saat itu tinggal sejam lagi waktu untuk bertemu. Darah udah berdetak cepat, jantung mengalir deras, err.. Stop there! Do I miss something?
*suara gaib* ” Ketuker kali cyinnnn”
Oh iya, should be this : darah udah mengalir deras, jantung berdetak cepat! Ini pertemuan penting.. Sepenting DPR study banding ke eropa. So I took my phone and call for a cab, tapi… “Maaf pak, hujan deras. Dimana-mana macet. Kami tidak dapat mengirimkan armada kami ke tempat bapak”. Saat itu, saya terdiam, HP terlepas dari genggaman dengan sendirinya. Mata saya berair. *sumpah ini hanya fiksi untuk membumbui cerita* .
Saya mengambil HP, menekan no telpon teman saya. Teman kencan saya *dijelasin* lalu drama pun dimulai.
Saya. : “Sepatu (ini nama kembang, sebut saja begitu. Temannya melati. ) , aku mungkin telat, disini hujan deras sekali”
Sepatu. : “Aaaakkkk… Kenapa kamu enggak berangkat daritadi sih? Disini enggak hujan deh. Masa enggak jadi ketemu?”
Saya. : ” Aku bilang telat . Bukan enggak jadi . Ya disana mungkin ga hujan. Disini Malaikat lagi marah-marah. Deras banget hujannya”
Sepatu. : ” enggak mau tau. Pokoknya mesti tepat waktu”
Saya. : ” Iya “
Dengan berat hati saya iyakan kemauannya. Mau tau gak ekspresi muka saya waktu itu gimana? Gini nih :
(-____________-) muka datar sedatar tv 54 inchi .
Bayangkan, dengan ekspresi muka seperti itu, saya harus merasa panik. Eh bukan merasa, tapi beneran panik ! Karena waktu janjiannya sudah tinggal 30 menit. Akhirnya, dengan payung cantik, transparan, dengan gagang warna orange punyanya @topikhidayah saya pake. Keputusan MENGGUNAKAN payung adalah hasil dari pemikiran lelaki dewasa. Pertimbangannya, kalo pake jas hujan, gak punya, kalo gapake apa-apa basah terus sakit dan besoknya gabisa kerja, gada tanggung jawab sama diri sendiri. Kalau nunggu hujan reda sungguh sebagai lelaki tidak ada tanggung jawab sekali terhadap janji. Karena hujannya deras. Mungkin dia akan menunggu dua jam lebih. Atau malah pulang sebelum saya datang. Akhirnya saya putuskan menggunakan payung, yang ternyata nanti menjadi bahan perdebatan saat makan malam dengannya. Sembari bernyanyi through the rain nya mariah carey saya berlari menembus hujan. Menyingkap gaun yang saya kenakan *ini beneran mariah carey apa yak?*.
Sampai di jalan besar di seputaran ahmad yani jaktim, saya memilih menggunakan angkot daripada busway. Inget kan di post sebelumnya? Lama waktu menunggu busway di koridor 10, serasa mengajak ribut.
Singkat cerita, saya sampai di tempat bertemu. Di suatu cafe. Telah duduk wanita cantik yang sekarang berekspresi singa lapar sedang menunggu saya menghampirinya. Dengan berjalan ala rusa tampan yang pasrah diterkam, saya melangkah sepelan-pelannya.
“BURUUUUU!!!” , dengan suara tajam dan mata melotot, doi memanggil.
“I..iyaa… Huhuhu. Maafin aku ya sepatu. Cuman telat 15 menit kok. Maaf ya..”
“……” , tak ada jawaban. Dia hanya menyeringaikan gigi, dan memicingkan mata. Cih !
“Aku duduk dulu ya, bolehkan ? Mau duduk ah pokoknya. Cape”
“Yaudah duduk sana.”
“Makasihh ya ..”
“Naik apa kamu kesini?”
“Angkot”
“Katanya hujan, kok gabasah?”
“Aku pake payung, nih payungnya.” Sambil nunjukin payung dengan gagang ngejreng.
*Dia melongo sebentar, lalu ngakak sampai njengkang*
“Hahahah, itu payung feminin banget sih warnanya. Doh, kamu ini kayak cewek deh. Cowok itu pake jas hujan “
*sedikit ngikik dalam hati, karena itu payung feminin punyanya @topikhidayah *
“Aku gada jas hujan”
“Ya mendingan kamu nungguin hujan reda kali. telat gapapa deh”
Dohhhh,, sejak kapan payung di asosiasikan dengan cewek sih? Emang cowok pake payung kenapa ya? Dikatain feminin massaaa..
“Sepatu, dengerin aku ya, gada hubungannya laki sama payung, atau jas hujan. Fungsinya sama, biar ga keujanan , gak sakit. Dan aku memakai yang ada saja dikostan. Maaf aku telat, tapi sebagai laki-laki.. Aku gakmau bikin kamu nunggu terlalu lama. Hujannya deras. Bisa telat 2 jam aku nyampe sini. Jadi karena merasa bertanggung jawab terhadap janji kita bertemu, biar kau bikin malu aku sekarangpun, aku tetap akan memakai payung ini”
Si sepatu diem aja. Mungkin niat dia hanya nyeletuk. Tapi kebetulan saya yang lagi moody gak jelas dan ngerasa gak dihargai udah berusaha tepat waktu. Saya jadi anggep dan ngejelasin hal ini secara serius. Dan akhirnya diskusi kita hentikan, soalnya niat kesana memang untuk makan. Bukan ngomongin payung .
Lepas dari payung, saya menyimpan pertanyaan soal definisi kelelakian masa kini apa ya memang ? Akhirnya pertanyaan ditujukan kebeberapa orang, semua menjawab, meski… Pada … Gajelas *nangis dipelukan jennifer bachdim* Berikut jawabannya:
@carimichan – Lelaki masa kini itu adalah lelaki yang berani jujur, tanggung jawab, dan menyenangkan. Jujur untuk menjadi dirinya sendiri dan semua aktivitas yang dilakukan. Begitu juga dengan tanggung jawab, salah ya minta maaf.
@topikhidayah – Absolutely, kudu #ngondek. Minimal ngerti artinya ‘capcusss’ dan bisa fasih ngomong ‘cyiiin’ .
@tweet_erland – Lelaki masa kini itu Contoh paling dekatnya lihat aku. Kalo kamu si fan “Lelaki masssa gitu..” *esumpah jawaban yang ini bikin pengen nendang*
@Ckw7 – lelaki masa kini terlalu mementingkan pencitraan terhadap dirinya sehingga melupakan siapa dirinya yg sesungguhnya
Gimana? Setuju? Saya sih enggak, karena yg saya minta jawabannya bukan seperti itu . Hehe. Jawaban mereka itu tentang “lelaki seharusnya..” . Yang mau saya bahas, adalah lelaki masa kini juga dapat melakukan beberapa hal yang dilakukan wanita. Dan itu tidak menjadikan mereka seorang yang feminin. Tapi stereotyping yang beredar di masyarakat , bahwa lelaki yang melakukan aktifitas perempuan disebut lelaki feminin. Errr.. Setuju? Mari Thinkers, kita redefine !!
Let’s think a thing !
Pertama akan saya sampaikan beberapa point yang sudah menjadi “opini terbentuk” di masyarakat tentang penyimbolan suatu aktifitas terhadap kefemininan. Berikut :
1. Lelaki yang memakai payung seperti yang saya ceritakan.
2. Lelaki yang memasak. Oh Please, ngulek sambel tidak menjadikan kami, para pria, lelaki yang setengah matang !
3. Lelaki yang modis. Seorang ferry salim yang supermodis, memiliki istri dan anak yang bahagia. See? Gada hubungannya kemodisan lelaki dengan orientasi mereka. Let me ask you something girls, pilih cowok berantakan gasuka mandi atau cowok rapih, harum, wangi?
4. Lelaki yang tidak merokok. Benar – benar tidak ada korelasinya. Jangan karena iklan rokok menampilkan lelaki macho means they who don’t are feminin. Get a life! Para waria mostly ngerokok, kok! In a real cigarret ya!! Hehe.
5. Lelaki yang tidak minum alkohol. *sighing* it is principal thing, people! Gada hubungannya sama kadar kejantanan mereka.
6. Lelaki yang menangis. Baca baik-baik ya. Menangis loh bukan cengeng.
7. Lelaki yang bawel. Errr.. Ok, they are too much. Tapi ga berarti mereka feminin. Lihat case nya kenapa mereka bawel.
8. Lelaki yang dandan. Belum tentu loh karena mereka ingin “tampil cantik” . Ada temen saya yang harus memakai lip gloss sepanjang hari karena bibirnya mengalami dehidrasi yang serius. Kalo ga pake, bibirnya pecah-pecah gitu dan berdarah.
9. Lelaki yang tidak menyukai musik rock dan metal. Doh, ini benar-benar primitive thoughts !! Jadi, maksud kalian lelaki yang menyukai music jazz dan sama sekali tidak menyukai rock adalah feminin? *Melototin mata*
Kesimpulannya, tidaklah ada penyimbolan suatu hal terhadap kelelakian seorang pria. Cara dia berpikir, tanggung jawab yang dia terima, cara dia mengambil keputusan, semua itu Yang menjadi ukurannya, sebuah kedewasaan dalam membentuk diri. Dan hal itu yang menentukan siapa dia. Apakah dia seorang pria dewasa atau hanya anak laki-laki saja.
Ok, thinkers!
Sebenarnya masih banyak sekali loh kasusnya. Tapi ini kan arena diskusi, janganlah saya dibuat cape sendiri mengetik. *nyengir tampan*
Jadi, kalau kalian punya pemikiran lain ayo di share, daripada dipendem sendiri entar jadi jerawat. Mending di share, biar semua kena jerawat #eh .
Akhir kata, ifan is signing out *gaya ala VJ*
So be smart,
Let’s think things !